(0298) 591028 [email protected]

Serikat Yesus memiliki 4 arah kerasulan sedunia. Satu: mengajarkan latihan rohani. Dua. Mengajarkan cinta akan orang miskin. Tiga: menjelajah bersama kaum muda. Empat: Bekerja sama dalam merawat bumi, Rumah Kita Bersama.

Salah satu anugrah yang diberikan kita adalah alam. Bumi dan segala isinya. Saya bayangkan ketika menciptakan Ambarawa, Allah sedang tersenyum. Maka jadilah alam yang sangat kaya dan indah ini. Segalanya subur dan baik adanya.

Di Mazmur, banyak ayat yang bicara soal alam. Kesuburan padang rumput yang hijau (Mazmur 23), di Mazmur 84 ada kegembiraan atas alam. Di Mazmur lain ada syukur atas aneka satwa, pujian atas gunung kudus Tuhan, dan lainnya.

Murid Yesus perdana berasal dari orang-orang Nelayan. Ia mulai berkarya di Danau Galilea. Ada Simon Petrus, Andreas, dan kawan-kawannya. Mereka dipanggil ketika sedang menebarkan jala. Yesus menghargai kaum nelayan, karena mereka kuat, sigap, cak cek, siap hujan siap panas untuk menangkap ikan. Tetapi Yesus ingin agar mereka punya nilai tambah: jadi penjala manusia.

Kita terkenang akan Kisah penciptaan bab awal. Dari sekian ciptaan, alam diciptakan duluan baru manusia. Artinya, alam adalah saudara tua kita. Bukan sebaliknya. Maka, keberadaanku saat ini untukmemayu hayuning buwana.

Dengan menyebutkan keindahan alam dan kreativitas manusia, Yesus mengakui kehebatan Tuhan, sang pencipta dan juga kebaikan dari ciptaan-Nya. Dia melihat harmoni antara alam dan manusia, dan ketika keduanya bekerja sama. Yesus juga memperhatikan kecerdasan manusia dalam bekerja dengan alam bagi kepentingan dan kebaikan komunitas manusia.

Hari ini bertepatan dengan 1 Mei, hari St Yusup Pekerja. Semoga kita bisa menghargai peran pekerja dalam hidup kita. Kita sebagia besar juga pekerja. Merayakan hari St Yusup Pekerja juga merayakan diri kita. Semoga pekerjaan kita dilimpahi rahmat yang cukup demi keluarga dan Gereja.  

Dari kisah Injil, banyak sekali relasi Yesus dan alam. Dari beberapa perumpamaan yang Yesus katakan kepada kita, kita belajar bahwa Yesus sangat peka dengan bagaimana alam bekerja. Dia mengamati bagaimana biji gandum, Ialang dan sesawi tumbuh, dan bagaimana ragi akan mempengaruhi adonan roti.

Hubungan manusia dengan alam tak terpisahkan. Tetapi manusia, bahkan orang Katolik masih merasa sebagai penguasa alam. Alam adalah sahabat. Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama adalah seperti seorang saudari yang dengannya kita berbagi hidup, dan seperti seorang ibu yang menawan yang menyambut kita dengan tangan terbuka. “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang menyuap dan mengasuh kami, dan menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan”. Dia menunjukkan kepada kita betapa tak terpisahkan ikatan antara kepedulian akan alam, keadilan bagi kaum miskin, komitmen kepada masyarakat, dan kedamaian batin.

Tema misa kita: merawat bumi, mencintai yang ilahi.

Kalau tidak ada alam, pasti tidak akan ada misa. Karena yang dipersembahkan ialah hasil bumi. Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti dan anggur yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari bumi dan usaha manusia yang bagi kami akan menjadi makanan dan minuman rohani.

Harapannya, misa ini membawa berkat secara non rohani:

1.      Bertanggungjawab – mendaur ulang sampah, tidak menghamburkan listrik dan air, membeli produk ramah lingkungan

Gereja harus meng-umat, me-masyarakat. Dalam arahan KAS, kita diajak SRAWUNG. Terima kasih karena kita mau merakyat. Turun ke bawah. Menapak bersama dengan dekat bumi rumah kita bersama. Misa ini juga dibangun dengan aneka perbedaan, ada banyak umat non Katolik yang membantu acara ini, perangkat desa, dan pemerintahan, TNI dan Polri. Meski kita beda, tetapi bumi kita satu, Allah kita satu.

2.      Bisa berbagi dengan warga sekitar, menggerakkan ekonomi desa dan stand makanan, stand sekolah yang ada di sini

3.      Kesatuan dan kebinekaan terpelihara di Ambarawa. Gereja yang berani masuk dan merangkul segala lapisan masyarakat.

Secara rohani, apa yang kita petik lagi. Kalau alam OK, subur, hidup kita juga baik, terpelihara, romonya juga ikut kopen, hidup menggereja jadi baik.

Dengan pemberkatan alat kerja, alat pertanian kita hendak menyatukan kerja keras kita dengan Tuhan. Bahwa alat yang kita pakai diberkati, sehingga kerja bukan hanya wujud cari nafkah tetapi  wujud syukur pada Tuhan. Semoga hasilnya berbuah limpah.
— 
Surya Awangga SJ 

%d blogger menyukai ini: