(0298) 591028 [email protected]

Sejarah Paroki

PRA PAROKI AMBARAWA

Pada tanggal 2 Agustus 1859 timbul surat Keputusan dari Pemerintah tentang pendirian stasi baru di Ambarawa atas dasar usul dari Uskup. Stasi Ambarawa di bawah pelayanan rohani Paroki Santo Yosep Gedangan Semarang. Distrik gereja yang baru ini (stasi Ambarawa) meliputi tempat-tempat yang jauh, yaitu : Salatiga, Surakarta, Madiun, dan Pacitan. Jumlah seluruh umat Katolik di tempat-tempat itu diperkirakan 1.250 orang, yang bagian terbesar adalah militer.

Pastor pertama yang berkarya di Stasi Ambarawa ialah Pastor C.Franssen Pr. Pada tanggal 26 Desember tahun itu juga beliau membentuk Pengurus Gereja dan Papa Miskin (PGPM). Pusat kegiatannya di Willem I, sebuah rumah sakit militer terbesar pada saat itu. Pada tanggal 30 April 1860 turun SK yang isinya Uskup mengizinkan Pastor C.Franssen Pr mendirikan gereja dan Pastori. Tetapi karena beliau tidak lama bertugas di Ambarawa, izin itu tidak sempat dimanfaatkan. Pada tanggal 18 Agustus 1861 beliau mendapat tugas baru di Larantuka. Sebagai penggantinya untuk Ambarawa adalah Pastor J.Sanders dari Larantuka. Tetapi Pastor J.Sanders ini juga tidak lama berada di Ambarawa, sebab menderita sakit, sehingga diganti oleh Pastor Joannes F.van der Hagen SJ pada tanggal 31 Mei 1862. Mulai saat itu umat Katolik Ambarawa dilayani oleh Pastor-pastor Serikat Yesus (SJ). Pada tahun 1865 Ambarawa memiliki umat Katolik sebanyak 1.787 orang, diantaranya 1.206 orang militer. Dalam tahun itu ada pembabtisan sebanyak 88 orang. Pastor van der Hagen SJ berkarya di Ambarawa kurang lebih selama 5 tahun. Pada tahun 1868 – 1871 Pastor Joannes de Vries SJ menggantikannya.

Dari tahun 1872 – 1879 Pastor Fransiscus de Bruijn SJ bertugas di Ambarawa dan pada 10 November 1879 beliau berangkat cuti ke negeri Belanda dan kedudukannya diganti oleh Pastor Joannes Hendrichs SJ sebagai pastor di Ambarawa. Pada tanggal 16 April 1881 Pastor Hendrichs menjalani cuti sakit dan Pastor Bruijn kembali dari cuti, berkarya lagi di Ambarawa sampai tahun 1900. Pada pertengahan kedua tahun 1881 Ambarawa ikut dilanda epidemi kolera yang hebat, hingga angka kematian umat meningkat drastic. Pastor de Bruijn bekerja keras berulang-ulang memberi Sakramen Minyak Suci, pernah dalam sehari sampai 13 kali. Pator ini menetap di Ambarawa hanya 2 minggu dalam sebulan, sisa waktu harus berkeliling ke Salatiga, Solo, Madiun, dsb..

AMBARAWA SEBAGAI PAROKI

Menurut “Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia” tahun 1993, halaman 178, Ambarawa mulai berstatus sebagai paroki pada tahun 1896. Memperhatikan Buku Pembabtisan yang disimpan di Gereja Santo Antonius Purbayan Surakarta, pada tanggal 29 Maret 1896 ada pembabtisan di bumi Ambarawa. Pada tahun itu juga ada pembabtisan lagi di Ambarawa, tercatat 17 pembabtisan, terutama bayi. Pada saat itu Gembala yang melayani adalah Pastor F. de Bruijn SJ yang bekerja di Ambarawa selama 19 tahun (1872 – 1900). Ambarawa telah memiliki Pastor Kepala (Pastor F. de Bruijn SJ) yang telah bekerja di wilayah itu selama belasan tahun, oleh sejarah gereja, Ambarawa dinyatakan sebagai paroki.

Setelah Pastor F. de Bruijn SJ meninggal, penggantinya adalah Pastor Mauritius Timmers SJ yang menjabat pastor di Ambarawa mulai 19 Desember 1900 sampai 1903. Kemudian selama satu tahun pastor Fredericus van Meurs SJ menjabat pastor di Ambarawa, yaitu pada tahun 1904. Mulai tahun 1905 jabatan pastor di Ambarawa dipegang oleh pastor Cornelius Stiphout SJ. Pastor Stiphout di Ambarawa memasuki pastoran baru. Ketika itu fondasi gereja baru sudah ditanamkan, dan pada akhir tahun 1906 gereja baru diberkati. Sekarang gereja dan pastoran sudah tidak ada. Adapun tempatnya sekarang untuk bangunan SD Pangudi Luhur, yaitu yang berhadapan dengan terminal bus Ambarawa.

Mulai tahun 1906 sampai tahun 1920 tidak ditemukan catatan-catatan mengenai perkembangan paroki Ambarawa, seperti tentang kemajuan di Muntilan, Mendut, Yogyakarta, dan di Flores, kecuali catatan mengenai pembabtisan, perkawinan, yang disimpan di gereja Santo Antonius Purbayan Surakarta. Baru pada tahun 1920 ada tertulis : “pada bulan November 1920 Normalschool yang kedua, yang diselenggarakan di Muntilan dipindahkan ke Ambarawa dengan Pastor Adrianus van Kalken sebagai direkturnya” ; itulah awal adanya St. Yosef College. Dengan demikian Ambarawa mempunyai pastor tetap lagi.

Para tentara Indonesia di Fort Willem I Ambarawa (tahun 1948)

Pembangunan gereja Santo Yusup Ambarawa yang sekarang ini (gereja Jago) dimulai pada tahun 1923 di atas tanah yang sebagian besar sudah digunakan untuk Normalschool itu. Peletakan batu pertama terlaksana pada tanggal 27 Mei tahun itu. Pada tanggal 27 April 1924 gereja yang megah dan indah itu diberkati. Gereja yang dapat menampung umat sebanyak 1.000 orang ini, statusnya sebagai gereja/tempat ibadah bagi Normalschool Maria di Ambarawa untuk mendidik calon guru Katolik wanita. Orde Franciscanessen ini bagi misi di Jawa Tengah sebagai pendukung yang gemilang bagi perkembangan iman Katolik, sehingga pada tanggal 15 September 1926 Mgr. van Velsen berkenan memberkati biara beserta bangunan Normalschool calon-calon guru wanita di Ambarawa. Di sela-sela kisah kegiatan di kota-kota lain pada tahun 1926 ada berita yang berbunyi : “Ambarawa pada tanggal 14 Mei secara resmi menjadi stasi tersendiri lagi”. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 08 Juli 1928 Pastor van Kalken , misi Overste SJ, memberkati gedung sekolah MULO dengan asrama milik Bruder OO, sekarang lebih terkenal dengan nama FIC. Satu tahun berikutnya, pada bulan Februari 1929, lembaga pendidikan dari Serikat Yesus di Ambarawa dinyatakan sebagai College. Dengan demikian pengembangan iman di Paroki Ambarawa didukung oleh sekolah-sekolah Katolik.

Sarana pembinaan iman lainnya, seperti pengadaan makam untuk para imam, biarawan-biarawati, dan umat Katolik, dimulai pada tahun 1931. Pada tahun ini, tanggal 19 Juli 1931, dilangsungkan pemberkatan kapel di Kerkhof, yang rancangannya disusun oleh Pastor van Kalken. Sebagian kerkhof untuk pemakaman pastor, sebelah kanan untuk para bruder dan di sebelah kiri untuk para suster. Sedang halaman luas disediakan untuk pemakaman umat Katolik Ambarawa. Setiap bulan sekali di kapel itu diselenggarakan misa kudus khusus untuk para arwah.

Pada waktu itu yang menjabat rektor College St. Yusup, Pastor Leopoldus van Rijckevorsel SJ dari tahun 1928 – 1936. Banyak yang dilakukan oleh pastor ini, diantaranya di Ungaran meletakkan batu pertama bagi gereja pada tanggal 14 Agustus 1932. Tanahnya diperoleh dari sumbangan persembahan seorang ibu Katolik. Oleh beliau gereja tersebut diberkati pada tanggal 22 Januari 1933. Kegiatan lain yang dilakukan disamping pelayanan rutin, juga mengadakan retret tertutup untuk umat yang kurang mampu.

Pada tanggal 01 Agustus 1940, diangkat seorang katekis yaitu Hieronimus Suparlan Prawirodirdjo oleh Pastor Hubertus Snijders SJ. Ia mulai menjadi warga paroki St. Yusup Ambarawa pada bulan Juli 1933 mengikuti RJ Djajaatmadja , guru Normalschool pindahan dari Muntilan. Pada waktu itu yang menjadi rektor college sekaligus sebagai pastor adalah Pastor L.van Rijckevorsel SJ yang dibantu oleh Pastor Joannes ten Berge dan Frater Alfonsus Darmawijata serta para bruder dan suster. Bapak Hieronimus Suparlan kemudian dibina oleh Pastor Josephus Dieben SJ. Ia mulai menjalankan tugasnya mengajar agama di sekolah-sekolah (Volkschool) lalu berkembang ke kampung-kampung.

Pada waktu Jepang masuk Ambarawa, pastoran, bruderan dan susteran menjadi kosong, karena para pastor dan biarawan-biarawati diinternir. Pelayanan rohani dilakukan oleh Bruder Woerjoatmadja dan H.Suparlan. Lalu datanglah Pastor Sutopanitro SJ di Ambarawa, yang kemudian disusul oleh pastor-pastor yang lain terutama setelah perang kemerdekaan. Pada saat itu umat Katolik Ambarawa tinggal tersisa kira-kira 150 orang.

Dengan adanya tempat peziarahan Gua Maria Kerep Ambarawa yang diawali pada tahun 1954, kemudian telah dikembangkan dan masih terus dikembangkan oleh Keuskupan Agung Semarang, menambah kehidupan iman umat Katolik Paroki Ambarawa. Acara novena terhadap Bunda Maria yang diadakan setiap bulan September diakhiri bulan Mei, menarik pengunjung dari kota-kota lain, membuat Paroki Ambarawa semakin banyak dikenal.

Saat ini, Paroki Ambarawa memiliki 2.500 KK, dengan ± 9.100 jiwa. Jangkauan pelayanan meliputi 18 wilayah, 73 lingkungan di Kecamatan Ambarawa, Bandungan, Sumowono, Bawen, Jambu, dan Banyubiru. Pada hari Minggu, Paroki melayani 9 misa di Gereja dan kapel. Paroki memiliki 11 kapel di Tambakboyo, Bandungan, Banyubiru (2), Bawen (2), Brongkol, Gedong, Sumowono, Trayu, dan Bejalen. Kehadiran umat dalam Ekaristi harian dan mingguan, ibadat lingkungan, devosi, misa arwah, ziarah, tergolong tinggi. Jumlah umat yang ke Gereja Paroki pada hari Minggu sebanyak 3.100 orang. Jumlah baptisan per tahun rata-rata 100 orang.

Peta Paroki Ambarawa

%d blogger menyukai ini: